Selasa, 10 Juni 2008

Buah baca buku, berpikir dan berjiwa besar

Tlilut..tlilut..., suara hp wanita di depanku membangunkan ku dari lamunanku...sambil menggeser tas yang ke antrian depan, tiba-tiba ingatanku ke masa-masa lalu, kembali terkenang. Aku ingat betul, bagaimana 13 tahun yang lalu, kehidupan seperti yang aku rasakan ini, hanya aku baca di buku profesor david J. Scwartz. Dengan getol, buku itu aku baca, bolak-balik puluhan kali. Setiap saat, buku selalu menginspirasi. Buku ini membimbingku, bagaimana cara berpikir, bagaimana mengalahkan ketakutan, cara bersikap, cara berjabat tangan, selalu duduk di depan di setiap pertemuan ataupun ruang kelas.

Tanpa kusadari, tangan kiriku, meraba dada sebelah kiriku. Hmm...rasa syukur, bahagia dan bangga, bercampur aduk jadi satu disana. "Terimakasih Tuhan, I Feel so good..." gumamku lirih. Perasaan itu, aku rasakan hingga saat ini, aku berada di dalam pesawat, Makassar-Jayapura. Sembari sesekali menoleh ke awan putih yang bertebaran di langit, sekali lagi aku merasakan syukur, serasa kedua bola mataku hendak meledak. Serasa ada genangan air yang ingin melompat keluar, Ya Tuhan...sungguh ini kebesaran-Mu. Seorang anak petani Miskin di pedalaman sumbawa, saat ini bisa terbang ke mana-mana suka, berkeliling Nusantara, bahkan dunia ini. "Terimakasih Tuhan..", sekali lagi ucapan itu begitu dalam dari dasar hatiku.

Bulan ini, agendaku memang sesuai yang aku rencanakan, sangat padat...Aku pergi ke Purworejo, Jayapura, baturaja, palembang, pontianak, beijing dan Hongkong. Lebih dari setengah bulan, hari-hariku akan berada di pesawat dan hotel-hotel berbintang. Suatu kehidupan, yang aku sering baca, dari para penulis buku, seperti Napoleon Hill, steven covey, david J. Schwartz, Robert T. Kiyosaki, Donald Trump dan yang lainnya. Para penulis buku-buku tersebut, memang banyak berpengaruh dalam hidupku. David J. Schwartz, dengan bukunya berpikir dan berjiwa besar, telah begitu mendalam mempengaruhi kehidupanku. Napoleon hill, dengan buku Berpikir dan Menjadi Kaya, telah berhasil menancapkan pemikiran-pemikirannya dalam hatiku. Aku bersyukur, ketika beberapa teman menertawakanku ketika itu, aku tetap bersikeras untuk membaca dan mengulangnya berkali-kali. Aku bersyukur, hari-hariku , dipenuhi oleh pemikiran para maestro kehidupan itu.

Beruntung, saat ini, kita bisa membaca dari website. Kita bisa belajar dari initernet, dulu di kota kecil yang bernama baturaja, hanya dua buku yang bisa menemani, menghibur sekaligus menguatkan hatiku. Semoga, generasi muda saat ini, bisa lebih banyak belajar, sehingga, negara ini, akan menjadi negara yang maju. Mari kita isi, diri kita, dengan berpikir dan berjiwa besar, dan kehidupan yang besar menanti anda...

Salam Ikhlas

Putu

Senin, 02 Juni 2008

Kesalahan apa, yg harus kita perbaiki dalam pendidikan kita?

Pendidikan tanpa kebijaksanaan, ataupun kebijaksanaan tanpa kerendahan hati, ibarat bulir padi tanpa isi (SVAMI)

Sekitar awal tahun 2000 an, saya mengenal kalimat yang cukup terkenal dari mahatma Gandhi, yaitu "the end of education is character". Hasil akhir dari pendidikan adalah pembangunan kharakter, kalimat itu begitu mengena di hati saya. Kebetulan pada awal-awal tahun itulah saya juga mulai sebuah proyek baru, membangun sebuah kampus, AKMI BATURAJA.

Saya merasa, kalimat ini tepat sekali buat saya ketika itu. Sebagai seorang yang sangat menyukai bidang pendidikan, khususnya pembelajaran pribadi, saya sangatlah antusias dan bersemangat memiliki suatu lembaga pendidikan yang berbeda dari pendidikan seperti yang saya lihat selama ini.

Jujur saja, ada dua stigma negatif yang saya lihat dari sistem pendidikan di negara kita, Indonesia yang kita cintai ini. Tentu saja, sistem pendidikan di negara memiliki sisi-sisi positif. Dari keterbelakangan dan keterpurukan karena penjajahan, dimana pendidikan masih sangat tertinggal, saat ini, bangsa indonesia , berdiri di depan di antara negara-negara berkembang di dunia.

Namun kita juga harus jujur mengakui, sistem pendidikan kita masih memiliki 2 PR besar. Yang pertama adalah Kemandirian. Pendidikan kita saat ini, masih lebih menghasilkan ketergantungan daripada kemandirian. Banyak sekali, orang mengambil satu pendidikan, dengan berharap menjadi pegawai/pekerja. Sehingga orientasi pendidikan bagi mereka adalah Ijazah dengan nilai yang baik. Keahlian yang menjadi modal utama untuk membangun kemandirian, sangat jarang menjadi tujuan dari masyarakat dalam mengambil pendidikan. Kondisi inilah, yang telah mengakibatkan keterpurukan ekonomi yang dalam, dan krisis multidimensi yang berkepanjangan di negara ini.

Di sisi lain, pendidikan yang kita jalani terlalu mekanis. Guru-guru dan tenaga pendidik yang kita miliki, masih terlalu mekanis dalam menjalankan program pendidikan. Program pendidikan yang ada lebih menekankan pada mengisi otak siswa atau mahasiswa dengan kurikulum. Di sisi yang lain, hati tidak terlalu mendapat porsi pendidikan yang cukup. Nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, seperti kejujuran, integritas, rasa tanggung jawab, saling membantu antar sesama, kepedulian lingkungan dan sosial, nyaris tidak mendapatkan perhatian.

Dengan kondisi ini, wajar jika akhirnya, kondisi negara jatuh dalam keterpurukan. Ketergantungan dan kharakter yang buruk, menghasilkan koruptor yang sangat mengakar. Korupsi berlangsung di negara kita, mulai dari level RT sampai pada pejabat tinggi negara. Bahkan, tokoh agama yang memimpin negara pun, tidak bisa menahan diri atas godaan-godaan setan yang bernama korupsi.

Inilah kenapa, sejarah memalukan pun terjadi. Seorang menteri AGAMA dan DIRJEN nya...masuk penjara, karena korupsi. Inilah lemahnya sistem pendidikan kita. Inilah PR kita bersama, jika kita menjadi warga negara, yang masih CINTA pada IBU PERTIWI. Marilah kita bangun, kita berbakti sesuai bidang kita masing-masing. Berhentilah saling menyalahkan, saling menjatuhkan, fokuslah pada pembelajaran diri kita, agar kita bisa menjadi pribadi pembelajar yang berkharakter MULIA.

Semoga , artikel kecil ini, bisa bermanfaat untuk membangun pribadi kita, untuk menjalankan amanah kehidupan dalam membangun kharakter, meraih kebijaksaan yang dilandasi kerendahan hati.

Salam Ikhlas

Putu putrayasa