3 hari terakhir, saya banyak sekali belajar, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari institusi yang saya pimpin. Perguruan tinggi AKMI baturaja, setelah 6 tahun beroperasi, sekarang saatnya naik ke jenjang yang lebih tinggi. Akreditasi, itulah salah satu anak tangga yang harus dilewati, untuk mengukur apakah perguruan tinggi ini sudah naik kelas atau belum.
Dalam perjalanan menjemput crew BAN-PT, kami sempat beristirahat di POM bensin. Tengah malam yang terdengar hanya suara kodok, jangkrik dan suara-suara alam...srrr...tiba-tiba ada getaran dari dada bagian sebelah kiri...ya saya tahu..itu artinya positif feeling. Tiba-tiba saya masuk ke kondisi alfa..saya menikmati musik alam ini...selama ini, saya menikmatinya melalui laptop saya setiap menjelang tidur, suara air gemericik, suara burung dan kodok. Tapi malam ini, atas anugerah Tuhan, kedamaian dalam hati hadir dengan begitu sempurna. Tiba-tiba ingatan saya mengalir ke masa-masa kecil, dimana kemewahan seperti ini selalu saya nikmati, ketika malam telah tiba, atau pagi-pagi bangun tidur dan gerimis masih turun.
Kemudian terbayang, wajah teman-teman saya di baturaja, yang sedang mempersiapkan proses akreditasi. Mereka harap-harap cemas, grogi dan berbagai perasaan tercampur menjadi satu. Maklum, masa depan kami semua kedepan, akan ditentukan oleh hasil akreditasi kali ini. Tiba-tiba, saya terbayang bagaimana dulu hidup saya dipenuhi dengan target-target yang membuat pusing dan penat. Saya bisa membayangkan, apa yang mereka rasakan, bahkan merasakannya.
Jika saya belum belajar banyak dari pengalaman, dari quantum ikhlas, law of attraction, the secret dll. Mungkin saya juga ikut2an grogi. Beruntung, pengalaman telah mengajarkan kepada saya, dengan menggunakan the power of positive feeling, pikiran menjadi lebih tenang dan otomatis, hal-hal yang ditarik dalam hidup kita akan lebih baik.
Boleh saja kita bertarget, tetapi biarkanlah kita menikmati perjalanan. Jangan terlalu mematok hal-hal yang harus terjadi ke depan, jangan stress dan kecewa ketika apa yang menjadi goal kita sedikit tertunda. Biarkan waktu dan alam, membuatnya menjadi sempurna. Terkadang, jika itu terjadi terlalu cepat, yang terjadi adalah sesuatu yang setengah sempurna, namun jika sesuatu tepat terjadi ketika kita membutuhkannya sesuai dengan yang diatur Tuhan dalam hidup kita, itu akan membuat hidup kita sempurna adanya.
Saya sepakat dengan apa yang ada di blog salah seorang accesor, Dr. Prihantoro, SE. MM yang saya jemput malam itu. Menjalani hidup seperti air yang mengalir , bukan berarti kita membiarkan hidup kita apa adanya, tetapi selalu mensyukuri apa yang ada dalam perjalanan hidup kita, untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Saya tahu, beliau adalah orang yang creative, banyak kegiatan dan project yang beliau tangani. Mengapa banyak orang yang menggunakan prinsip hidup mengalir tidak sesukses beliau? Dari usia beliau, yang belum mencapai 40 tahun telah menjadi Doktor, kita bisa memahami, beliau bukanlah tipe orang yang tidak memiliki goal dan impian. Beliau pastilah punya, namun beliau menikmati perjalanan untuk mencapai itu.
Seperti yang beliau ungkapkan, kalo kita mau melakukan perjalanan dengan tujuan kota D yang melewati kota A,B dan C. Apa yang bisa kita ceritakan, ketika kita sudah sampai di kota D? Apakah kita masih ingat dengan apa yang kita lihat dan nikmati di kota A, B dan C, atau kita sudah melupakannya? Jika kita sudah melupakannya, itu tandanya, kita bukan tipe penikmat perjalanan. Kita beranggapan, sukses ada di kota tujuan, padahal yang paling nikmat justru ketika kita bisa menikmati apa yang terjadi sepanjang perjalanan. Seperti prinsip hidup saya, Hidup adalah sebuah perjalanan, dimana rasa syukur dan selalu belajar membuatnya penuh makna dan menyenangkan.
Sudahkah anda menikmati perjalanan hidup anda? Ataukah seperti yang saya alami sekitar 4-5 tahun yang lalu? Jika belum, saat inilah saat yang tepat, mendalami pilosofi Hidup mengalir seperti yang dianut oleh Dr. Prihantoro, SE. MM Yang saya jemput kemarin. Pilosofi Hidup mengalir untuk selalu berprestasi, bukan hidup mengalir sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu dan mempersalahkan nasib...betuuuullll....
Salam Ikhlas
Putu

